twenty four

(diambil dari arsip email chibinesta@yahoo.com)

Hari ini, 09 Oktober 04, aku mengalami 2 hal yang membuatku mulai berpikir tentang hidup.

What’s life for, What’s beneath on it? Have I made my life count?……

Aku lagi di rumah. Pulang kampung sebelum puasa. Pagi tadi aku bangun dalam keadaan gobyos dan berisik. Ternyata pintu jendela kamar tertutup rapat. Ada ‘tang teng tong’ di luar.

Bau apek dan pesing. Papa dan ‘rewang lanang’ ku lagi mengadakan acara “ mouse hunt”. Akhir2 ini binatang lucu itu emang lagi banci2nya tampil. Sliwer sana, mejeng sini. Dari kamar makan sampe teras. Orang rumah pada gemes.

Jadi pada hari libur ini, para pria berusaha melenyapkan koloni tak berdosa itu. Papaku punya gen pecinta binatang yang sama denganku. Bukannya seperti kebanyakan pembunuh tikus lainnya yg dengan ekstrim dan semangat G30S/PKI membantai, papaku lebih ke “penggusuran habitat”.

Beliau dan rewangnya sibuk bongkar-buang barang2 rongsokan yang numpuk di gudang dan mojok di sudut rumah yang sekiranya di-real estatekan oleh Ir. Miki Tikus. Bau dan debunya…ampun deh. Sebagian barang itu dibuang dan dilenyapkan. Yang masi berguna ditata ulang.

Papa melihat pembongkaran itu sebagai usaha sanitasi dan higienisasi.

Rewangku melihat itu sebagai uang ekstra dan pengencangan otot gratis.

Aku, yang Cuma ngelihat dari jauh, melihat itu sebagai suatu bentuk kekejaman psikologis dari pengobrak-abrikan masa laluku yang tercermin dari eksistensi boneka2 unyil, wc jongkok mobil, boneka putri salju, boneka teddy bear,surat2 cinta, bola basket kempes, sepatu butut pesing, dsb…..

seperti slide film yang muncul silih berganti, kenangan batita, balita, TK, SD,SMP,SMU bahkan awal2 kuliah terasa jelas di kepalaku.

Dari hidupku yang 24 tahun ini, dengan begitu banyak barang yang menemaniku, apa sih yang sudah kuperbuat?

Aku udah kerja, tapi masi bergantung sama orang tua.

Aku punya semangat, tapi impulsif, cepat datang dan cepat reda.

Bahkan hal yang paling sepele, yaitu bagaimana aku membahagiakan diriku sendiri pun aku belum bisa.

Jadi mikir.

Jadi lebih menghargai apa yang namanya masa lalu.

Heraclitus, filosof Yunani abad jauh sebelum Socrates diciptakan, Berkata bahwa dunia itu dicirikan dengan adanya kebalikan. Kita tidak akan pernah menghargai rasa kenyang kalo ngga pernah kelaparan. Kita tidak pernah menghargai perdamaian kalo nggak pernah perang. Dan kita tidak akan pernah bangkit kalo kita tidak pernah terpuruk.

Satu lagi, aku nggak akan pernah segitunya menghargai masa laluku kalo aku aku tidak merasa sakit hati dengan masaku sekarang ini.

Sore hari, di tengah teriknya matahari pancaroba, kami sekeluarga ngumpul di teras nunggu tukang es lewat.

Setelah menghamburkan uang dengan membeli beberapa buah es krim, aku dan mama duduk nyaman di kursi teras. Kulihat seoang gembel mengaduk2 tong sampah kami yang bagaikan harta karun karena banyak besi2 tua yg bisa dijual. Kucuekin dia. Ah, biarin aja. Ada jutaan gembel di dunia, satu gembel singgah di rumahku, who cares? Batinku mulai terusik ketika aku sadar bahwa gembel itu sama sekali tidak memungut besi2 tua itu. Aku mulai menyipitkan mata, memperhatikan apa sebenernya yang dia pungut dan korek2.

dan..

Tuhanku…

ternyata yang dia pungut adalah nasi.

Upo2.

sisa semalam.

Sudah basi.

dan tidak terkemas dalam kresek.

Disebar gitu aja. Bercampur besi2 tua. Bau pesing tikus. Tahi2 tikus.

Dan beliau yg dengan telaten menjumput upo2 itu dalam sebuah kotak kertas kumal……

Mama langsung lari ke dalam.

Aku juga lari kedalam.

Mama mengambil nasi hangat dari rice cooker plus bbrp lauk, aku mengambil duit dalam dompetku.

Ketika aku keluar, gembelnya udah pergi. Aku kejar. Trenyuh rasanya melihat dia makan dengan lahap nasi beracun itu.

Ketika kusodorkan nasi hangat dan duit, dia cuman memandangku saja.

Tak mengucapkan apapun.

Lalu tersaruk2 pergi.

Aneh, semakin lama dia jadi kabur. Seakan2 tiba2 turun kabut tebal yang menghalangi pandanganku.

Ternyata itu cuman air mata.

Yang memenuhi mataku.

Hikz.

Hidup ini begitu pahit.

Heraclitus sekali lagi benar.aku tidak akan merasa bahwa hidupku begitu beruntung kalo tidak pernah melihat gembel itu….

3 Responses to “twenty four”

  1. Safril Says:

    setiap hembusan napas yang kita lakukan adalah suatu keberuntungan.
    setiap hembusan napas yang kita lakukan adalah suatu mukzizat.
    setiap hembusan napas yang kita lakukan adalah suatu anugerah.
    setiap hembusan napas yang kita lakukan seharusnya disertai dengan rasa syukur kepada-NYA.

  2. Deni Says:

    ternyata dirimu punya bakat terpendam….

  3. Lanza Says:

    Good words.

Leave a Reply